Detik
Jika detak detik waktu kelak berhenti Tapi aku masih sering berlari Dan jika detak detik waktu kelak berhenti
Aku ingin berhenti bersama-Mu
Jika degup jantung kelak menjadi sunyi
Aku ingin bertemu sunyi bersama-Mu
Jika kehangatan mentari kelak berganti dinginnya bumi
Aku ingin mengakrabi dingin bersama-Mu
Jika riuh rendah tawa kelak berganti sendiri
Aku ingin sendiri bersama-Mu
Mengarungi arah yang tak tentu
Tapi aku masih sering bertopeng munafik
Yang menjadi hijab dengan-Mu
Panggil aku dengan ke-Maha Kasih-an Mu
Aku berhenti bersama-Mu

pandai berpuisi……..
Comment by detri — June 6, 2008 @ 3:49 am
salut buat mbak ika atas puisi yang menyentuh hati ini
bersyukurlah mampu menikmati
indahnya hidup di dua dunia.
detik waktu berjalan
detak jantung kita berpacu
seperti hari yang datang dan berlalu
dulu dan kini
esok atau entah kapan
tak ada yang tahu pasti
detik kita kan sampai di akhir jalan
menuju-Nya
bersama-Nya
kembali
salam sukses dua sisi!
Comment by esha r yudhi — June 26, 2008 @ 12:23 pm
ukhti,,,,
kangen detak-detik bersamamu
Comment by dpujia — July 10, 2008 @ 5:47 am
AsW. Ika, izin ngelink, boleh kah ? Thx. Sorry, nggak ada identitas personal di blog saya.Jzk khair ( Btw, sampeyan itu bisa bikin puisi ya/ Hm, keren)
Comment by Galih — September 15, 2008 @ 2:17 pm
Ka, nilap ya
http://www.kafemuslimah.com/article_detail.php?id=1341
Comment by Ira — February 17, 2009 @ 6:56 am
Mbak ika..
puisinya bagus..bikin terharu..
apa kabar, Mbak?
Miss u..
Comment by rifqie — April 22, 2009 @ 8:34 am
Syukron Ghina…selamat milad ya…
Comment by ikabudhyardjo — June 17, 2009 @ 4:07 am
puisi yang menyentuh…bagus…
Comment by Fitri — August 5, 2009 @ 4:17 pm