Do’a
Fiuhh…rasanya tidak ada habis-habisnya penguasa-penguasa (berat nih menyebut pemimpin) negeri ini bermanuver, jungkir balik tidak jelas arahnya. Katanya untuk kepentingan rakyat, tapi semakin mereka asyik bermanuver, main-main dengan jabatannya, semakin rakyat tidak merasakan apa-apa di sekitarnya menjadi lebih baik.
Masalah demi masalah sudah jelas…jelas kusutnya. Tidak perlulah diuraikan lagi di sini.
Jadi berpikir…rasa-rasanya kita cukup sering berdo’a bagi kepentingan diri kita sendiri. Minta lulus ujianlah, lulus sidang, lulus interview kerja, dapat pendamping hidup dan lain-lain. Namun, pernahkah kita berdo’a untuk para pemimpin kita? Pernahkah kita berdo’a agar para pemimpin kita dijaga dalam kelurusan niat dan cara dalam menjalankan tugasnya? Pernahkah kita berdo’a agar para pemimpin kita dimampukan untuk menghindar dari godaan hawa nafsu dan kemaksiatan? Pernahkah?
Jika belum. Bisa jadi kita pun punya saham kesalahan pada bobroknya negeri ini. Karena kita belum melakukan hal termudah untuk mencegah kerusakan, yaitu do’a.
Jika hal sekecil dan semudah itu saja belum kita lakukan, bagaimana kita akan berbuat lebih besar? Atau jangan-jangan kita baru hanya sebatas bisa mengeluh, mengkritik, menghujat dan sebagainya? Semoga saja tidak…
Daripada terus menerus menghujat kegelapan, adalah lebih baik menyalakan sebuah lilin…

tanggung bener nyalain lilin…
Obor aja Ka..kita bikin sebuah terobosan yang bisa digunakan umtuk kemashalatan ummat….
okey..
gut lat bwt skripsi mu ya ka…
Comment by a121es — July 3, 2007 @ 8:14 am
eh..bang aries ternyata…ya biar romantis dikit lah nyalain lilin, kalo nyalain obor kan jadinya serem…sangar gitu…
tapi sepakat bung, kita memang harus berusaha membuat terobosan yang bisa berguna untuk kemashlahatan umat…so, mau bikin apa nih?
Comment by ikabudhyardjo — July 3, 2007 @ 9:15 am
Nice post…
Comment by purna — July 2, 2008 @ 8:09 am