Ika Budhyardjo

June 3, 2008

Detik

Filed under: Uncategorized

Jika detak detik waktu kelak berhenti
Aku ingin berhenti bersama-Mu
Jika degup jantung kelak menjadi sunyi
Aku ingin bertemu sunyi bersama-Mu
Jika kehangatan mentari kelak berganti dinginnya bumi
Aku ingin mengakrabi dingin bersama-Mu
Jika riuh rendah tawa kelak berganti sendiri
Aku ingin sendiri bersama-Mu

Tapi aku masih sering berlari
Mengarungi arah yang tak tentu
Tapi aku masih sering bertopeng munafik
Yang menjadi hijab dengan-Mu

Tunjukki aku jalan untuk kembali
Panggil aku dengan ke-Maha Kasih-an Mu

Dan jika detak detik waktu kelak berhenti
Aku berhenti bersama-Mu

September 17, 2007

Matahari

Filed under: Uncategorized

…tetes air mata mengalir di sela derai tawa
selamanya kita tak akan berhenti mengejar
matahari…
(Dikutip dari “Mengejar Matahari”)

Matahari
Makhluk Allah swt. yang tiada pernah lelah memberi
Matahari merelakan dirinya terbakar terus menerus
karena ia tak ingin berhenti memberi kehidupan
Kehangatan yang diberikannya telah memungkinkan
segala makhluk di muka bumi ini merasakan hidup
Dan Sang Matahari tidak menuntut pamrih atas apa yang telah ia beri
Ia terus bersinar sepanjang waktu walaupun mungkin ia tahu
bahwa sangat sedikit manusia yang bersyukur pada Rabb-nya

Dan hari-hari itu telah berlalu
Berlalu sudah detik-detik berharga yang barulah kusadari nilainya sekarang,
setelah Sang Detik pergi meninggalkan jejak-jejak aneka warna
pada lembar kanvas kehidupanku
Masih kuingat hari itu
Diiringi senyuman mentari pagi di sebuah rumah Allah
Aku dipertemukan dengan keluarga baruku
Subhanallah…luar biasa!
Sebelas saudara baru dan seorang bunda yang luar biasa

Derai tawa yang mengalir silih berganti dengan keharuan dan gemetar jiwa
Perjalanan-perjalanan dan petualangan-petualangan kecil yang kita jalani bersama
Belajar saling memahami, berbagi, mengingatkan
Bahkan kekonyolan-kekonyolan yang seringkali mengundang senyuman jika mengingatnya
Telah membuat hidupku menjadi lebih kaya warna bersama mereka

Lama aku memandangi jejak-jejak kita
Dan penyesalan pun menyergap, menyesakkan ruang jiwa
Aku telah melewatkan waktu-waktu berharga itu begitu saja
Seringkali tanpa bersyukur atas nikmat itu
Seringkali tanpa harapan untuk kembali ke masa itu
Seringkali tanpa kehati-hatian dalam bertutur dan berlaku
Seringkali tanpa kelapangan hati menerima kekurangan dan mengulurkan tangan
Seringkali tanpa keinginan untuk memberikan yang terbaik dari diri ini
bahkan untuk sekedar memberikan senyuman terbaik

Sepatah kata maaf tentu tidak akan mampu mengembalikan segala sesuatu
yang telah kuambil darimu saudaraku
Sepatah kata maaf tentu tidak akan mampu memberikan hak yang belum kutunaikan
Sepatah kata maaf tentu tidak akan mampu mengobati luka
yang mungkin pernah kutorehkan pada kelembutan jiwamu saudaraku
Tapi izinkanlah aku memintanya darimu saudaraku
Agar lapang hati ini menempuh kehidupan mendatang
Agar ringan kaki ini melangkah ke masa depan
Agar tenang hati ini karena mengetahui bahwa masih ada ruang cinta untukku

Sepatah kata terima kasih tentu tidak akan mampu membalas segenap ketulusan cinta
yang telah kau berikan padaku saudaraku
Sepatah kata terima kasih tentu tidak akan sama nilainya dengan semua hal indah
yang telah kita jalani bersama
Sepatah kata terima kasih tentu tidak sebanding dengan segenap dukungan dan doa darimu saudaraku
yang mengiringi setiap langkahku menapaki beratnya anak-anak tangga kehidupan
Tapi izinkanlah aku mengucapkannya sekali
Sekali lagi…
Sekali lagi…
Sekali lagi…
Dan beribu kali lagi…
Dan hanya Allah saja sebaik-baik pemberi balasan

Saudaraku…
Di penjuru manapun kelak kau akan menyulam dunia
Izinkanlah hari-hari indah canda tawa kita atau sendu derai air mata kita
tetap menjadi mozaik tersendiri dalam setiap jenak hidup kita
Menjadi pengingat bahwa kita pernah berjanji untuk tidak menjadi manusia yang biasa-biasa saja tapi menjadi manusia-manusia luar biasa
Menjadi pengingat bahwa kita memiliki cita-cita besar sepanjang sejarah manusia
Menjadi pengingat bahwa kita pernah berjanji untuk membersamai jalan ini seumur hidup kita

Saudaraku…
Aku hanyalah manusia biasa
Di mana lupa, lalai, lemah dan malas dapat bertumbuh subur di sana
karena kelemahan jiwa
Jika kelak kau temui aku demikian
Tegurlah aku dan ingatkan aku tentang mimpi-mimpi besar kita
Tentang tabiat jalan ini
Tentang keindahan taman-taman surga
Dan rengkuh aku kembali pada kelembutan pangkuan tarbiyah Allah…

Shohwah…
Sebuah pernyataan tekad untuk menegakkan kembali kemuliaan umat
Dan tetaplah menjadi matahari
Yang selalu memberi dan memberi
Kemudian biarkanlah “tangan-tangan” Allah yang bekerja menyelesaikannya…

Semoga Allah berkenan mempertemukan kita lagi kelak
dalam keadaan yang jauh lebih baik
di surga-Nya…Amin


*Kupersembahkan untuk ‘Shohwah 12/06-07’ dan ibunda tercinta.
Akan selalu ada tempat istimewa di hati ini untukmu ‘Shohwah’….
 

September 13, 2007

Duka

Filed under: Uncategorized

Lagi…

Kemiskinan dan ketidakadilan telah merenggut satu lagi jiwa tunas bangsa ini…

June 28, 2007

Sidang

Filed under: Uncategorized

Pagi ini saya menghadiri sidang Tugas Akhir seorang sahabat. Hmm…menonton sidang sahabat saya ini, membuat mental saya rada down juga, "Duh nanti saya sidang gimana ya? Mana TA begini-begini saja lagi?", ya begitulah yang terlintas di benak ketika menyaksikan sahabat saya ini diberondong pertanyaan oleh dosen penguji. Jawaban pertanyaan sebelumnya belum selesai benar, pertanyaan berikutnya sudah menyusul. Saya saja yang menonton jadi grogi, apalagi sahabat saya itu. Tentunya lebih grogi.

Fiuhh…dua jam akhirnya berakhir sudah. Lama ya sidang di sana? Di Elektro berapa lama ya? Rasanya tidak selama itu. Saya dan sahabat saya keluar ruangan dengan hati harap-harap cemas. Terus terang melihat sidang tadi, optimisme saya terhadap hasil sidang tadi menipis. Alhamdulillah perasaan saya tidak benar. Sahabat saya dinyatakan lulus. Resmi sudah sahabat saya jadi S.Si. Saya lihat matanya sedikit memerah dan berkaca-kaca.

Tapi, salut juga untuk sahabat saya yang satu ini. Ketenangannya itu luar biasa. Mungkin kalau saya dalam posisi beliau, saya akan lebih panik. Hmm…jadi teringat perbincangan singkat di telpon dua malam sebelum sahabat saya ini sidang.

"Gimana persiapan sidangnya?" tanyaku di telpon.

"Tadi sudah sempat latihan dengan dosen pembimbing. Disuruh banyak belajar lagi." jawab sahabatku dengan tenang.

"Wah…kayaknya deg-degan nih mau sidang?"

"Deg-degan sih ya pasti adalah. Tapi, mencoba berpikir positif saja. Lagipula ini kan baru sidang Sarjana aja, belum sidang sesungguhnya."

"Lho? Memangnya masih ada sidang lagi?"

"Ya kalo dibandingkan dengan sidang di Hari Akhir nanti kan belum apa-apanya" jawab sahabatku dengan ringan tetapi mantap.

Iya. Sahabatku itu benar. Kesulitan apapun yang kita hadapi di dunia ini, masihlah tidak ada apa-apanya dengan kesulitan yang akan kita hadapi di Hari Akhir nanti. Sidang untuk mempertanggung jawabkan penelitian Tugas Akhir, jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan sidang pertanggungjawaban atas kehidupan kita di dunia ini nanti.

Jika seorang mahasiswa mempersiapkan sidang Tugas Akhirnya sejak berbulan-bulan sebelumnya, maka tentunya seorang manusia harus mempersiapkan sidang Hari Akhirnya dengan jauh lebih baik lagi. Jauh lebih serius.

Jadi, sudahkah kita menyiapkan diri untuk sidang itu? 

June 27, 2007

Ikan

Filed under: Uncategorized

Rasanya ada yang spesial antara saya dengan makhluk Allah yang satu ini. Ok…mulai dari nama saja contohnya, Ika Nugrahanti Budhysulistyani, coba kalo disingkat…jadi…Ika N. "Kebetulan" yang lain, saya dilahirkan pada bulan Maret. (Sebenarnya untuk hal yang satu ini saya tidak mempercayainya) Katanya sih, zodiak saya Pieces yang artinya ikan. Dan hubungan spesial lainnya adalah saya senang makan segala jenis masakan ikan (bahkan yang tidak dimasak seperti sushi sashimi). Kalau sedang punya rezeki berlibur ke daerah pantai, makanan pokok saya bisa berganti dari nasi menjadi hanya makan ikan dan teman-temannya.

Tapi, bukan itu yang penting. Di makhluk "sesederhana" ikan ini ternyata Allah memberikan pelajaran besar bagi manusia. Subhanallah…

Pernah makan ikan laut kan? Pernahkah menjumpai ikan laut yang sejak diambil dari laut sudah asin? Bisa dipastikan tidak pernah. Kalaupun ada ikan segar yang sudah berasa asin, pastilah sang nelayan telah menambahkan garam untuk mengawetkannya.

Walaupun ikan laut setiap waktu berada pada lingkungan perairan yang asin, selama ikan tersebut hidup ternyata ia tidak pernah ikut menjadi asin. Jika ikan tersebut diibaratkan sebagai diri kita, harusnya lingkungan seburuk apapun tidak membuat kita menjadi ikut buruk selama jiwa kita "hidup". Dan jiwa hanya bisa dihidupkan dengan keimanan kepada Sang Maha Pencipta.

Selama jiwa kita hidup, jiwa kita akan seperti ikan tadi yang tidak turut menjadi asin walaupun setiap waktu ia berada di lingkungan perairan yang asin. Kita akan menjadi kokoh dengan kepribadian kita. Berani berbeda selama kita berada dalam kebenaran.

June 26, 2007

Gagasan

Filed under: Uncategorized

Semua gagasan akan mungkin diwujudkan,
selama kuat rasa keyakinan kepadanya,
ikhlas dalam memperjuangkannya,
semangat dalam mewujudkannya,
siap berjuang dan berkorban untuk menegakkannya…

Weits…gagah bener ya tulisan itu terpampang di dinding kamar ane. Kadang jadi malu sendiri. Sering punya gagasan ini itu…a b c d e…ada sih yang jadi konkret, tapi masih jauh lebih banyak yang tidak konkret. Macam-macamlah sebab ketidak konkretan itu. Mungkin tidak terlalu yakin dengan gagasannya, kurang ikhlas memperjuangkannya, kehilangan semangat mewujudkannya, atau takut berkorban untuk menegakkannya.

Tapi, memiliki suatu gagasan masihlah lebih baik daripada tidak punya sama sekali. Dan mewujudkan gagasan tentulah jauh lebih baik daripada hanya berada pada medan kata-kata.

So, kapan lulus neng?! emoticon

Ada Banyak Cinta Hari Ini

Filed under: Uncategorized

Apa perasaanmu membaca SMS-SMS berikut ini…

"Ku harap Allah akan memegangmu erat, malaikat-malaikat menjaga ketat. Tidak hanya membuatmu baik-baik saja, tapi supaya mendapatkan yang TERBAIK dalam hidup!"

"Jangan pernah berhenti membenahi diri, karena sejarah tak pernah menunggu kesiapan kita…dan jangan lelah untuk beramal, karena kita tidak tahu amal mana yang akan mengantarkan kita ke surga-Nya."

"Tetap semangat ya. Insya Allah tidak ada yang tersia tatkala tetap meluruskan niat kita. Kesuksesan hidup tidak ditentukan lulus sekarang atau tidak. Senantiasa bersama Allah itulah sukses sebenarnya."

"Tetap ikhlas menerima segala hasil yang telah dicapai. Bila belum berhasil, jangan menyalahkan nasib. Pelajari lagi, pasti ada hal yang masih kurang dan belum dilakukan."

"Biarkan hari-hari berbuat apa yang ia mau…tenangkan diri saat menghadapi masalah. Jadilah manusia yang kuat menghadapi hidup…syukur dan sabar adalah kekuatan jiwa Insya Allah…"

"Sesungguhnya Allah menjadikan ruh dan kegembiraan pada ridha dan yakin. Dan menjadikan kekhawatiran dan kesedihan dalam keragu-raguan dan kemarahan. Keyakinan akan membawa seseorang untuk terus berjuang!"

Jika SMS-SMS tersebut dibaca di saat sedang bahagia, mungkin tidak terlalu terasa "getaran"nya. Tapi, coba bayangkan jika SMS-SMS tersebut dibaca ketika kepala sedang pening karena masalah, dan hati sesak karena merasakan banyak kegagalan. Rasanya sejuk bukan…

Yang lebih menyejukkan lagi adalah ketika ternyata SMS-SMS tersebut sampai pada handphone kita tanpa terduga. Subhanallah…cinta Allah selalu ada kapan saja, tetapi kita hampir selalu lupa bahwa ada yang selalu mencintai kita.

Aku merasa…ada banyak cinta hari ini…

Do’a

Filed under: Uncategorized

Fiuhh…rasanya tidak ada habis-habisnya penguasa-penguasa (berat nih menyebut pemimpin) negeri ini bermanuver, jungkir balik tidak jelas arahnya. Katanya untuk kepentingan rakyat, tapi semakin mereka asyik bermanuver, main-main dengan jabatannya, semakin rakyat tidak merasakan apa-apa di sekitarnya menjadi lebih baik.

Masalah demi masalah sudah jelas…jelas kusutnya. Tidak perlulah diuraikan lagi di sini. 

Jadi berpikir…rasa-rasanya kita cukup sering berdo’a bagi kepentingan diri kita sendiri. Minta lulus ujianlah, lulus sidang, lulus interview kerja, dapat pendamping hidup dan lain-lain. Namun, pernahkah kita berdo’a untuk para pemimpin kita? Pernahkah kita berdo’a agar para pemimpin kita dijaga dalam kelurusan niat dan cara dalam menjalankan tugasnya? Pernahkah kita berdo’a agar para pemimpin kita dimampukan untuk menghindar dari godaan hawa nafsu dan kemaksiatan? Pernahkah?

Jika belum. Bisa jadi kita pun punya saham kesalahan pada bobroknya negeri ini. Karena kita belum melakukan hal termudah untuk mencegah kerusakan, yaitu do’a.

Jika hal sekecil dan semudah itu saja belum kita lakukan, bagaimana kita akan berbuat lebih besar? Atau jangan-jangan kita baru hanya sebatas bisa mengeluh, mengkritik, menghujat dan sebagainya? Semoga saja tidak…

Daripada terus menerus menghujat kegelapan, adalah lebih baik menyalakan sebuah lilin…






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham